Waspadai Dana Talangan Haji


Haji merupakan amalan yang afdhal dan sangat mulia, seperti yang dikatakan Rasulullah SAW dalam Hadits Riwayat Bukhari No. 1519, “Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang amalan yang paling utama maka beliau bersabda: “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ditanyakan kepada beliau, “Kemudian amalan apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Kemudian beliau ditanya lagi, “Haji yang mabrur.”  Tentunya setiap Muslim pastinya mengidam-idamkan untuk dapat menunaikannya. Selain itu Haji juga merupakan kewajiban setiap Muslim yang mampu, dikatakan ‘yang mampu’ karena ibadah ini memerlukan raga yang kuat serta finansial yang mencukupi. Dalam surah Ali Imran: 97 pun dijelaskan bahwa:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.”

Dalam memenuhi kebutuhan finansial dalam ibadah haji, cara yang biasa dilakukan ialah menabung baik dalam Tabungan Haji maupun dengan cara lain. Namun saat ini di Indonesia terdapat alternatif lain dalam pemenuhan kebutuhan dana berhaji berupa skema pinjaman ‘Dana Talangan Haji’ yang ditawarkan oleh bank-bank syariah. Sepintas, hal tersebut nampaknya tidak ada yang salah, namun di balik itu terdapat praktik-praktik yang ternyata tidak sesuai dengan hukum syar’i.

Dana Talangan Haji yang ada dalam praktiknya melanggar hukum syar’i karena dalam transaksinya terdapat akad ganda, yaitu akad sosial berupa qardh (pinjaman) dana akad komersial berupa ijarah (leasing/sewa menyewa, di sini berupa jasa). Rasulullah dengan jelas melarang hal tersebut, “Tidak halal menggabungkan antara piutang dengan akad jual beli.” (HR. Abu Dawud 3506, at-Tirmidzi 1234). Dalam Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah 29/62 pun dikatakan bahwa pada hadits ini Rasulullah SAW melarang penggabungan antara piutang dengan jual beli. Ketika terjadi penggabungan antara akad piutang dengan akad sewa-menyewa, maka dianggap seperti akad yang serupa dengan pengabungan antara akad piutang dengan akad jual-beli. Maka dari itu, setiap akad sosial semakna dengan akad hutang piutang, yaitu tidak boleh digabungkan dengan akad komersial seperti jual-beli dan sewa-menyewa.

Selain itu, terjadi pula riba yang tidak disadari. Hal ini terjadi karena adanya pungutan ujrah (upah sebagai akibat ijarah) dalam praktik Dana Talangan Haji. Kita tentunya sudah paham apabila terdapat lebihan dalam praktik pinjaman ialah termasuk riba. Sebagian besar ulama pun telah sepakat bahwa:
كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبَا
Setiap pinjaman yang menghasilkan kemanfaatan, maka (kemanfaatan) itu adalah riba (penjelasan lengkap dapat dibaca di Al-Ijmâ` hal. 136 dan Al-Isyrâf 6/142)
Ujrah yang terjadi dalam Dana Talangan Haji dapat dianggap sebagai tambahan dalam pinjaman karena disepakati bersamaan dengan akad qardh serta dibayar dalam masa pinjaman. Selain itu, jasa yang diberikan hanyalah sebatas peminjaman dana maka tambahan tersebut dihukumi sebagai riba, bukan ujrah.

Ingatlah bahwa Islam pada dasarnya tidak akan memberatkan ummatnya, seperti yang dijelaskan dalam surah Al-Baqarah:185, Allah menghendaki kemudahan bagi kamu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Maka dari itu, bila dirasa belum mampu, sebaiknya tidak memaksakan diri untuk beribadah haji dengan cara berhutang, karena hutang pada dasarnya ialah suatu beban, terlebih jika hutang tersebut tenyata mengandung unsur riba. Wallahu a’lam bishawwab.

Akhir kata, semoga Allah senantiasa menjauhkan kita dari segala sesuatu yang bernuansa ribawi, aamiin J

Fauzian Rizqi P.
Semarang, 19 Maret 2017, 11:45 PM (WIB)


Waspadai Dana Talangan Haji Waspadai Dana Talangan Haji Reviewed by Fauzian Rizqi on 23:57 Rating: 5

No comments