Selayang Pandang: Etika Bisnis dalam Perspektif Islam



Kegiatan bisnis awalnya berjalan dalam lingkup yang kecil (antar manusia atau dalam lingkup keluarga) dan dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Seiring perkembangan pola hidup dan pola pikir manusia yang semakin maju, kegiatan bisnis pun berjalan dengan lingkup yang lebih luas lagi sehingga semakin kompleks. Tujuannya pun berbeda, bukan sekedar memenuhi kebutuhan hidup tetapi ditambah dengan mencari keuntungan. Permasalahan terjadi ketika para pebisnis menjalankan bisnisnya seenaknya sendiri, tanpa memperhatikan aspek moralitas dan kemanusiaan dikarenakan persaingan yang semakin keras, sehingga keberadaan etika bisnis sebagai pedoman dalam kegiatan bisnis dirasa perlu. 



Etika bisnis dibentuk dari kerangka prinsip-prinsip dasar tentang apa yang baik dan buruk, atau dengan kata lain dibentuk berlandaskan nilai-nilai moral, yang kemudian berimplikasi dalam kegiatan bisnis. Landasan moral yang menjadi dasar kebanyakan mengadopsi nilai-nilai Barat, dan diterapkan secara global, termasuk pada umat Islam. Maka timbul pertanyaan, apakah landasan moral tersebut dapat diterapkan secara global, dan kemudian apakah hal tersebut sesuai dan tidak berbenturan dengan nilai-nilai Islam?

Liberalisme Sebagai Landasan Moral Barat

Liberalisme merupakan ideologi yang berdasarkan pada kebebasan dan persaman hak individu di segala aspek. Dalam kehidupan bernegara, warga negara diberikan kebebasan seluas-luasnya dan tidak adanya campur tangan negara. Negara hanya berperan sebagai pelindung dan pengaman warga negara. Pada aspek ekonomi, kepemilikan dan kebebasan pribadi pun sangat diagungkan dan diakui. Segala kegiatan ekonomi diserahkan kepada pasar dan intervensi negara dalam kegiatan ekonomi pun dihilangkan. 

Teori liberalisme pertama kali dicetuskan oleh John Locke (1632 – 1704). Dia mengatakan bahwa manusia memiliki tiga hak kodrat (natural rights), yang kemudian menjadi nilai dasar dalam liberalisme, yaitu life (hidup), freedom (kebebasan), property (kepemilikan). John Locke menekankan pada hak kepemilikan karena kehidupan dan kebebasan merupakan kepemilikan tiap manusia sehingga hak milik mendasari hak yang lain. Pada awalnya, kepemilikan muncul akibat dari adanya investasi dari tenaga kerja yang disebut pekerjaan. Dengan pekerjaan manusia dapat membuat sesuatu menjadi miliknya sehingga pekerjaan dapat dikatakan sebagai legitimasi suatu kepemilikan. Pekerjaan yang dilakukan masih sebatas pemanfaatan sumber daya alam sehingga kepemilikan terbatas dengan kemampuan sumber daya alam untuk bertahan. Kemudian setelah munculnya uang, kepemilikan pun berubah, tidak terbatas dengan alam sehingga kepemilikan dapat diakumulasi tanpa takut akan menjadi rusak atau busuk. Hal itu membuat manusia dapat mengumpulkan kekayaan tanpa batas.

Dari nilai dasar liberalisme yang dicetuskan John Locke di atas, muncullah nilai-nilai pokok liberalisme berupa: 
  • Kesempatan yang sama
  • Memperlakukan orang lain setara
  • Pemerintah harus mendapat persetujuan dari yang diperintah
  • Berjalanya hukum
  • Pemusatan kepentingan individu
  • Negara merupakan alat
  • Menolak dogmatisme


Kapitalisme: Buah Pemikiran Liberalisme

Kapitalisme merupakan praktek ekonomi di mana seluruh kegiatan dan alat ekonomi dikuasai oleh swasta dan sistem sosial yang ditandai dengan adanya kelas, yaitu kaum kapitalis dan kaum proletar. Terdapat tiga unsur mutlak dalam kapitalisme yaitu kepemilikan pribadi, pencarian untung, dan kompetisi, yang mana unsur-unsur tersebut didasari oleh pemikiran liberalisme. Selain itu, kapitalisme dapat dibilang sebagai sistem pasar bebas karena semua kendali perekonomian diserahkan kepada pasar dan penghilangan campur tangan pemerintah karena dianggap mengganggu kebebasan pelaku pasar. 

Tokoh pencetus pasar bebas ialah Adam Smith (1723 – 1790), yang menganggap praktek ekonomi pada saat itu (merkantilisme) dianggap membelenggu kebebasan ekonomi karena pemerintah terlalu mengintervensi dengan banyaknya regulasi tentang perdagangan. Adam Smith mengatakan bahwa perekonomian seharusnya digerakkan oleh para pelaku pasar tanpa intervensi dari pemerintah, atau dengan kata lain pasar berjalan laissez-faire (biarlah berjalan sendiri, Perancis) dan memandang bahwa semua akan berjalan secara otomatis karena diatur oleh “tangan yang tak terlihat” (led by an invisible hand). Tangan yang tak telihat di sini dimaksudkan sebagai mekanisme pasar bebas yang berjalan sesuai kepentingan diri masing-masing pelaku pasar

Liberalisme dan Kapitalisme – Implikasi Terhadap Etika Bisnis

Pemikiran liberalisme dan kapitalisme sebagai falsafah moral masyarakat Barat tentunya berimplikasi terhadap pengembangan etika bisnis konvensional. Salah satu pengaruh ialah dari pemikiran Adam Smith yang mengatakan seluruh kegiatan manusia sudah berlandaskan etis karena sikap dasar manusia yang didorong oleh keinginan untuk kondisi yang baik sehingga kepentingan orang lain juga diperhatikan selain mengejar kepentingan diri sendiri, atau dengan kata lain adanya hubungan timbal balik. Selain itu, Smith juga mendorong terjadinya kompetisi dalam pasar bebas, dan kompetisi tersebut ditandai dengan adanya persamaan yang berarti semua peserta harus berangkat dari kondisi yang sama. 

Dari hal tersebut, kemudian melahirkan prinsip-prinsip etika bisnis konvensional sebagai berikut:
  • Prinsip Otonomi 
Sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya untuk memilih tindakan yang paling baik dilakukan. Seperti yang dikatakan oleh Adam Smith bahwa pada dasarnya manusia sudah berlaku etis karena mempertimbangkan hubungan timbal baliknya. 
  • Prinsip Kejujuran 
Kejujuran merupakan prinsip penting dalam kegiatan bisnis karena melibatkan hubungan antar pihak sehingga terdapat berbagai kepentingan yang melengkapi satu sama lain yang kemudian terjadi hubungan timbal balik sehingga tidak boleh ada hubungan yang merugikan salah satu atau kedua belah pihak. 
  • Prinsip Keadilan 
Setiap orang diperlakukan sama dan tidak boleh ada yang dirugikan dalam kegiatan bisnis. Keadilan diterapkan berdasarkan konsep etis yang sudah ada dalam diri manusia.




Bisnis Modern dan Pandangan Islam

Praktek bisnis modern secara universal saat ini berpijak pada liberalisme dan kapitalisme. Begitu banyak sumber daya, baik alam maupun tenaga, yang diakui sebgai milik pribadi dan menjadi komoditas yang umum diperjual belikan dalam pasar sehingga terjadi eksploitasi besar-besaran. Selain itu peranan modal sangatlah besar, karena dengan kepemilikan modal seseorang bisa menguasai pasar serta menentukan harga dalam rangka mengeruk keuntungan yang besar. Fernand Braudel bahkan menyatakan bahwa “kaum kapitalis merupakan spekulator dan pemegang monopoli yang berada dalam posisi untuk memperoleh keuntungan besar tanpa menanggung banyak resiko” (Yoshihara Kunio, 1990: 3). 

Tetapi, pada praktek modern, tidak adanya peranan pemerintah dalam pasar seperti kehendak kapitalisme klasik tidak terjadi. Pemerintah masih melakukan campur tangan dalam kegiatan bisnis karena merupakan bagian dari sistem perekonomian. Roda ekonomi nasional baru berjalan dengan baik jika hak-hak dasar manusia seperti keamanan dan stabilitas dijamin pemerintah. Maka intervensi pemerintah diperlukan dalam rangka melindungi hak-hak dasar manusia. 

Dalam praktek bisnis modern, berbagai jenis komoditas bermunculan, dari bidang jasa maupun barang. Berbagai macam praktek seperti monopoli, spekulasi, penimbunan, bunga, dan persaingan kurang sehat pun menjadi hal yang lazim. Selama tidak mengganggu hak-hak dasar dan kebebasan orang lain maka segala tindakan menjadi ‘halal’ dilakukan. 

Praktek-praktek di atas jelas tidak sesuai dengan pandangan Islam. Islam memandang bahwa Allah adalah pemilik mutlak atas segalanya, atau dengan kata lain bukanlah milik pribadi perseorangan, dan menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang dipercaya sebagai khalifah, yaitu mengemban amanah Allah untuk memakmurkan dunia (Q.S. al-An’am/6: 175; Hud/11: 61) yang kemudian amanah tersebut nantinya akan diminta pertanggungjawabannya (Q.S. al-Qiyamah/75: 36). Islam melarang melakukan eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya karena hanya akan mengakibatkan kerusakan alam semesta (Q.S. al-Syu’ara/26: 183). 

Potensi alam dan bekerja dimanfaatkan hanya untuk mencari keridhaan Allah, bukan untuk kepentingan pribadi. Islam menyuruh umatnya untuk bekerja keras dan beramal shaleh, dan hasilnya dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam konteks ibadah kepada Allah (Q.S. al-Kahfi/18: 110) dan tidak akan menimbulkan hak-hak istimewa. Maka dari itu, kemuliaan seseorang bukan terletak pada tingkat hartanya melainkan terletak pada tingkat ketakwaannya. 

Islam pun melarang menumpuk-numpuk harta benda dan harta benda tersebut harus difungsikan sebagaimana mestinya. Penumpukan harta dapat menghentikan laju roda perekonomian sertia kemudian menimbulkan kesengsaraan, penderitaan rakyat. Hal ini sangat dilarang dalam Islam. Selain itu, kekayaan hanya dimiliki manusia sebatas usia manusia di dunia. Jika meninggal dunia, maka harta benda tersebut harus segera dibagikan kepada ahli waris menurut ketentuan yang telah ditetapkan Allah. Semua hal ini tidak ada dalam etika bisnis konvesional.

Etika Bisnis Perspektif Islam

Islam mengatur banyak aspek dalam kehidupan sehari-hari, dan aspek tersebut berkaitan satu sama lain karena Islam merupakan agama yang komprehensif. Maka dari itu sudah tentu kaidah-kaidah dalam kegiatan bisnis diatur dalam sumber hukum Islam. Dalam Al-Qur’an sendiri pun dunia bisnis mendapat perhatian, Nampak dari beberapa ayat yang membahas tentang transaksi dan jual beli. Rasulullah SAW yang notabene seorang pedagang pun telah memberikan suri tauladan dalam berbisnis. Berikut ini merupakan etika berbisnis dalam perspektif Islam:

  • Kejujuran
Kejujuran sangat dijunjung tinggi dalam Islam karena merupakan salah satu sifat terpuji yang disenangi Allah. Orang yang jujur merupakan orang yang mengatakan sesuatu dengan sebenar-benarnya, tidak memandang apakah yang disampaikan itu manis atau pahit. Kejujuran merupakan syarat fundamental dalam kegiatan bisnis sampai-sampai Rasulullah sangat intens menganjurkan kejujuran dalam aktivitas bisnis.

Dalam berbisnis, Islam mengatur bahwa semua informasi harus diberikan sejelas-sejelasnya. Kualitas atau bobotnya pun tidak boleh dikurangi atau dipalsukan, semua harus sesuai dengan informasi yang diberikan. Rasulullah SAW bersabda: "Tidak dibenarkan seorang muslim menjual satu jualan yang mempunyai aib, kecuali ia menjelaskan aibnya," (H.R. Al-Quzwani). "Siapa yang menipu kami, maka dia bukan kelompok kami," (H.R. Muslim). Allah pun berfirman, "Celakalah bagi orang yang curang, yaitu orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi" (QS Al-Mutaffiffin 83:112).
  • Menolong atau memberi manfaat kepada orang lain 
Pelaku bisnis menurut Islam, tidak hanya sekedar mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya sebagaimana yang diajarkan Bapak Ekonomi Kapitalis, Adam Smith. Bisnis dalam Islam merupakan salah satu kegiatan yang berimplikasi sosial, selain mencari keuntungan, yang berorientasi kepada sikap ta’awun (menolong orang lain). Pertolongan yang diberikan di sini ialah membantu orang lain memenuhi kebutuhannya.
  • Adanya fairness dalam persaingan. 
Islam melarang untuk menjelekkan bisnis orang lain dengan tujuan agar orang membeli kepadanya. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Janganlah seseorang diantara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual oleh oranglain," (H.R. Muttafaq‘alaih).
  • Kegiatan Bisnis Tidak Mengandung Riba, Gharar, dan Maysir 
Riba merupakan tambahan, tetapi tambahan tersebut merugikan salah satu pihak. Maka dari itu, Allah dan Rasul-Nya mengumumkan perang terhadap riba, seperti dalam firman Allah: "Hai orang-orang yang beriman, tinggalkanlah sisa-sisa riba jika kamu beriman," (QS. 2:278), “Pelaku dan pemakan riba dinilai Allah sebagai orang yang kesetanan” (QS. 2:275). Riba diganjar dosa paling ringan menzinahi ibu kandung sendiri, seperti pada sabda Rasulullah SAW, “Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinahi ibu kandungnya sendiri, sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudarnya.” (H.R. Al-Hakim dan Al-Baihaqi) 

Gharar merupakan transaksi yang mengandung ketidakjelasan. Dalam Islam jual beli dengan unsur gharar terlarang. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits Abu Hurairah, “Rasulullah SAW melarang jual beli al-hashah dan jual beli gharar.” 

Maysir merupakan tindakan judi atau spekulasi. Hal tersebut dilarang Allah dalam firmannya: “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minum-minuman keras, maysir, berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan syaitan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (Q.S. Al-Maidah 5:90). Salah satu tindakan maysir ialah Ihtikar, yaitu menimbun barang dengan harapan harganya suatu saat meningkat dan memperolah keuntungan besar. 
  • Komoditi yang diperdagangkan harus suci dan halal 
Nabi Muhammad saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah mengharamkan bisnis miras, bangkai, babi dan patung-patung," (H.R. Jabir). Komoditi yang diperdagangkan harus memperhatikan kaidah prinsip dasar halal dan haram:
  1. Prinsip dasarnya adalah diperbolehkan segala sesuatu. 
  2. Untuk membuat absah dan untuk melarang adalah hak Allah semata. 
  3. Melarang yang halal dan menbolehkan yang haram sama dengan syirik. 
  4. Larangan atas segala sesuatu didasarkan atas sifat najis dan melukai. 
  5. Apa yang halal adalah yang diperbolehkan, dan yang haram adalah yang dilarang. 
  6. Apa yang mendorong pada yang haram adalah juga haram. 
  7. Menganggap yang haram sebagai halal adalah dilarang. 
  8. Niat yang baik tidak membuat yang haram bisa diterima. 
  9. Hal-hal yang meragukan sebaiknya dihindari. 
  10. Yang haram terlarang bagi siapapun. 
  11. Keharusan menetukan adanya pengecualian.
Secara umum Islam menawarkan nilai-nilai dasar atau prinsip-prinsip umum yang penerapannya dalam bisnis disesuaikan dengan perkembangan zaman dan mempertimbangkan dimensi ruang dan waktu. Nilai-nilai dasar etika bisnis dalam Islam adalah tauhid, khilafah, ibadah, tazkiyah dan ihsan. Dari nilai dasar ini dapat diangkat ke prinsip umum tentang keadilan, kejujuran, keterbukaan (transparansi), kebersamaan, kebebasan, tanggungjawab dan akuntabilitas sehingga menjadikannya universal, dapat diterapkan secara luas.


Kesimpulan 

Etika bisnis yang berlandaskan nilai moral liberalisme dan kapitalisme tidak dapat diaplikasikan secara universal karena akan berbenturan dengan nilai-nilai yang dianut dunia Timur, khususnya nilai-nilai Islam. Praktek bisnis modern pun tidak sesuai dengan kaidah-kaidah Islam, seperti eksploitasi sumber daya dan praktek-prakteknya. 

Islam tidak membenarkan adanya kepemilihan individual, seperti dalam praktek kapitalisme, yang mengakibatkan mereka menguasai kekayaan. Seluruh apa yang ada di muka bumi ini mutlak milik Allah semata. Manusia hanya diberi wewenang untuk mengelola dan menikmati sesuai dengan aturan-aturan Allah Swt. Islam menawarkan etika bisnis yang berkeadilan dengan berlandaskan pada keteladanan Rasulullah SAW serta Al-Qur’an. Etika bisnis dalam Islam pun dapat diterapkan secara luas, karena Islam merupakan rahmatan lil alamin dan komprehensif sehingga nilai-nilainya pun universal. Wallahu'alam bishawwab

Fauzian Rizqi P.
Semarang, ‎18 ‎Oktober ‎2015, ‏‎10:45 AM
Selayang Pandang: Etika Bisnis dalam Perspektif Islam Selayang Pandang: Etika Bisnis dalam Perspektif Islam Reviewed by Fauzian Rizqi on 18:59 Rating: 5

No comments